myDeden.Kom

Pemulung yang Berusaha Memanfaatkan Limbah Sebaik Mungkin

Surat terbuka kepada para pendidik bidang TI Indonesia

Posted by kang deden pada 18 Februari, 2007

Rekan-rekan pengajar yang saya hormati, tanpa terasa teknologi informasi (TI) telah masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Internet, spreadsheet, wordprocessor, database telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak hanya bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang komputer, teknik, perbankan atau sains, tapi juga telah melebar ke bidang lainnya. Komputer dan teknologi informasi telah sampai pada taraf pervasif, yang telah begitu menjadi satu dalam proses belajar dan mengajar sehari-hari. Dari menulis laporan, perangkat analisis, hingga ke pelaksanaan percobaan

Sebagai pengajar, selama ini kita telah berusaha sekuat tenaga untuk sedapat mungkin mengajarkan teknologi ini kepada anak didik kita, baik dari segi teoritis maupun aplikasinya. Perkembangan teknologi yang cepat ini tanpa terasa telah memojokkan kita untuk mengajarkan produk teknologi informasi ini secara cepat-kilat dan terkadang cenderung potong kompas. Dorongan untuk mengikuti perubahan teknologi ini menjadikan kita cenderung memberikan pengetahuan dengan bersandar pada aplikasi-aplikasi yang populer belaka. Popularitas suatu perangkat lunak yang sering kali dibentuk oleh strategi dan proses marketing yang jitu, sering menjadi dasar pemilihan perangkat lunak pendukung materi pengajaran. Kita kurang melihat pada kesesuaian perangkat lunak terhadap materi pengajaran, juga sering kita mengabaikan dasar teknologi yang melandasinya. Bahkan terkadang kita melupakan tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Secara sadar atau tidak sadar dan sengaja atau tidak sengaja, demi mengatas-namakan mengejar ketinggalan teknologi, kita telah mengabaikan etika yang seharusnya kita junjung tinggi dalam lingkungan akademis ini. Tanpa sadar kita mengajarkan pengetahuan teknologi informasi ini dengan mengabaikan hak cipta si pembuat perangkat lunak. Sebagian besar perangkat lunak yang kita gunakan adalah “bajakan” (sengaja saya beri tanda kutip, karena secara hukum tidak bisa dikatakan bajakan karena banyak institusi telah membeli satu lisensi perangkat lunak, tapi secara etis adalah bajakan karena banyak mahasiswa yang mengkopinya secara sadar). Tanpa sadar secara perlahan kita memberikan justifikasi keabsahan penggunaan perangkat komersial bajakan. Hal ini disebabkan proses pengkopian tersebut dilakukan terhadap program komersial, bukan ke suatu program yang bersifat Open Source.

Memang kita bisa beralasan dengan menyatakan bahwa situasi pada saat itulah yang mendorong dan memaksa kita melakukan hal itu. Keterbatasan arus informasi menjadikan seakan-akan kita tidak memiliki pilihan lain yang lebih aplikabel. Harga perangkat lunak yang mahal serta lajunya perubahan perangkat lunak dan trend yang ada. Itikad baik kita untuk mengajarkan pada para mahasiswa aplikasi yang terbaru demi mempersiapkan mereka terjun ke lapangan pekerjaan juga mendorong kita untuk melakukannya. Sekarang adalah saat yang tepat untuk kita renungkan satu per satu. Apakah ada langkah alternatif lainnya yang mencegah kita melakukan pilihan yang sama ? Situasi perekenomian yang sulit dan perkembangan teknologi informasi yang cepat mengharuskan kita memikirkan dengan lebih jernih, seksama, strategis dan taktis, tanpa mengabaikan etika yang ada.

Mungkin sekitar 1993-an kita masih bisa berlindung di balik alasan ketersediaan perangkat lunak yang minim di Indonesia. Jangankan program Open Source yang gratis, pilihan program komersial yang tersedi sangat terbatas sekali. Free Software Foundation, Linux, FreeBSD, GNU masihlah sangat jarang terdengar dan gaungnya nyaris tak terdengar di Indonesia. Pada saat ini, hampirs setiap majalah komputer dan bisnis telah membahas Linux dan trend Open Source ini (majalah komputer dan bisnis di Indonesia yang masih jarang sekali memasukkannya ke dalam bahasannya, mungkin hanya Elektro, dan Infokomputer yang pernah sekilas membahasnya). Walau begitu gaungnya tetap belum terdengar keras di Indonesia. Terbukanya arus informasi via Internet seharusnya menjadikan kita menoleh kepada pilihan yang ini. Tetapi sepertinya kita kembali menjadi penonton yang ketinggalan jaman lagi seperti yang sudah-sudah. Haruskah kita mengulangi kesalahan yang sama ini? Semua itu berpulang pada kita sebagai pengajar. Akankah kita tetap mengajarkan teknologi informasi kepada para anak didik kita, dengan menggunakan perangkat lunak “bajakan” atau komersial yang mahal, atau memilih menggunakan perangkat lunak Open Source, yang murah atau bahkan gratis. yang tersedia source code, yang memungkinkan untuk dianalisis, dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan kita ?

Mari kita lihat kekurang-tepatan apa lagi yang telah kita lakukan selama ini tanpa sengaja. Dengan hanya mempelajari perangkat lunak yang “jadi dan tertutup” bahkan yang “legalitasnya dipertanyakan”, kita menempatkan anak didik kita berada pada posisi benar-benar sebagai end-user. Mereka siap menjadi seorang konsumer yang selalu hanya bisa menerima perubahan perangkat lunak dan selalu mengikuti popularitas model. Penyakit “up-grade syndrom” makin melanda kepada konsumer teknologi informasi. Bukannya sebagai pengguna yang bijaksana memilih perangkat lunak atau pengembang perangkat lunak. Sehingga mereka harus selalu belajar hal yang baru setiap kali terjadi perubahan versi perangkat lunak yang baru. Ini merepotkan juga bagi kita para pengajar dan juga mereka yang mempelajarinya. Selain itu setelah mereka selesai mempelajari suatu penggunaan perangkat lunak, perangkat lunak tersebut telah menjadi “out of date”. Oleh karena itu kita harus “back to basic” kita harus menggunakan perangkat lunak yang memiliki perkembangan yang konsisten dan bersifat evolusi. Dengan kata lain si siswa dapat melihat bahwa si perangkat lunak itu memang terbentuk dari perangkat lunak yang ada sebelumnya, sehingga apa yang telah dipelajari sebelumnya menjadi tidak sia-sia. Di samping itu, perangkat lunak yang kita gunakan untuk mengajarkan teknologi informasi seharusnya mampu memberikan landasan pengetahuan yang baik. Sehingga mendorong anak didik kita dapat lebih bijaksana dan tepat dalam memanfaatkan teknologi informasi.

Dari sisi etika pun, kita telah mengajarkan sesuatu yang kurang tepat. Memang secara hukum kita pada saat itu tidak bisa dibilang salah karena Indonesia belum terikat Konvensi Wina. Tetapi secara etis hal tersebut tidak bisa dibenarkan. Mari kita renungkan bersama kembali, etis kah kita melakukan peng-kopian suatu perangkat lunak komersial ? Secara perlahan, kebiasaan menggunakan aplikasi komersial yang tertutup itu menjadikan para anak didik kurang memiliki intuisi sebagai developer. Mereka hanya benar-benar sebagai pengguna suatu kotak hitam yang bernama program aplikasi. Daripada mengembangkan aplikasi yang sesuai kebutuhan mereka, mereka cenderung untuk mengcopy program yang telah ada. Hal ini terbawa terus ketika mereka masuk dalam lingkungan kerja. Sehingga ketika mereka bekerja, mereka menjadi “big spender” yaitu cenderung membeli program jadi komersial. Secara tidak sengaja, mereka menambah beban perekonomian nasional.

Di era reformasi ini, tampaknya kita juga harus mereformasi cara pandang kita terhadap penggunaan perangkat lunak. Kebiasaan menggunakan perangkat lunak jadi telah menjadikan suatu ketergantungan terhadap suatu produk jadi. Bukankah menggunakan perangkat lunak ilegal adalah salah satu bentuk “korupsi” pula ? Haruskah kita membiarkan para mahasiswa kita berteriak anti korupsi tapi di saat yang sama melakukan korupsi pula dengan cara menggunakan perangkat lunak bajakan ? Haruskah kita membiarkan mereka terjebak ke dalam situasi ini, hanya karena kebiasaan dan ketidak-perdulian ?

Rekan-rekan pengajar, kesempatan menjadi “trend setter” kini berada pada kita, pilihan terbuka di depan mata. Haruskah kita mengulangi kesalahan yang pernah kita lakukan di hari-hari yang lalu. Hanya sekedar menjadi pengekor yang mengikuti keinginan pasar. Sekarang adalah saat yang tepat untuk menunjukkan kemampuan kita. Saat yang tepat untuk membentuk pasar yang siap diantisipasi oleh para mahasiswa kita nantinya. Saat yang tepat untuk mengembangkan kemampuan tenaga teknologi informasi lokal, dan saat yang tepat untuk menangguk devisa negara melalui teknologi informasi.

Open Source ini membuka kesempatan kepada kita dan para mahasiswa untuk menjadi pembuat perangkat lunak, atau menyediakan jasa yang berkaitan dengan teknologi informasi. Solusi-solusi lokal akan dapat diwujudkan, Value Added Reseller menjadi lebih terbuka. Internet menjadikan semua jaringan relatif terikat menjadi satu. Kemampuan tenaga TI lokal akan memungkinkan terbukanya kesempatan kerja di manca negara. India dan China telah menjadi penyedia tenaga kerja TI yang cukup sukses. Haruskah kita tertinggal kembali ?

Dengan trend Open Source ini kita para pengajar dapat secara aktif membantu para mahasisswa. Kita dapat aktif membantu membuat dokumen pembantu, misal HOW-TO, Frequently Asked Question (FAQ) atau manual. Juga secara aktif kita dapat menyebarkan pengetahuan tentang program Open Source, seperti LINUX dan lainnya melalui kesempatan di kelas ataupun kegiatan akademis dan non akademis lainnya. Bahkan bila perlu kita dapat melaksanaan kuliah umum, seminar ataupun pameran untuk memperkenalkan Open Source ini kepada para mahasiswa kita. Ketersediaan beragam aplikasi dalam lingkungan OpenSource, yang memungkinkan pula untuk kita gunakan dalam proses belajar-mengajar, tidak hanya dalam mata kuliah komputer, tapi juga mata kuliah lainnya, seperti biologi, kimia, akuntansi, linguistik, psikologi dan sebagainya. Kita dapat mendorong para mahasiswa untuk tertarik dan terlibat untuk memanfaatkan dan mengembangkan Open Source, dan GNU/Linux ini. Secara perlahan-lahan, para mahasiswa diharapkan nantinya akan berkembang menjadi developer yang handal, yang berfungsi tidak hanya sebagai end-user yang hanya mengerti menggunakan sebuah kotak hitam saja. Mereka yang tidak tertarik bekerja sebagai developer pun dengan kebiasaan memakai program dalam lingkungan Open Source ini akan terbiasa menjaga “etika kerja” dalam pemrograman. Secara tidak sadar kita telah memulai suatu evolusi pola pikir dan pola pandang. Suatu kemajuan akan tercapai secara perlahan.

Semua jenis aplikasi yang ada di platform yang biasa kita populer digunakan pada saat ini, tersedia padanannya di lingkungan Open Source. Bahkan beberapa aplikasi yang ada di lingkungan Open Source tidak ada di lingkungan yang kini populer digunakan. Keterbatasan program aplikasi bukanlah suatu alasan yang cocok untuk menghalangi kita menoleh kepada penggunaan program jenis Open Source ini. Semua program Open Source terbuka programnya sehingga membuka kesempatan bagi kita untuk menyesuakian dengan kebutuhan kita.

Rasanya kurang pantas dan bahkan terkesan janggal, bila kita sebagai para pengajar bidang teknologi informasi menjadi tertinggal dengan para mahasiswa yang mulai menyukai konsep Open Source seperti Linux dan program GNU lainnya. Bukankah seharusnya kita menjadi tempat bertanya bagi mereka, dan rekan diskusi bagi para mahasiswa kita. Janganlah kita menjadi tertinggal dan hanya bisa menghindar ketika mereka bertanya tentang Linux dan program Open Source lainnya. Trend yang menyegarkan ini sudah mulai melanda para mahasiswa Indonesia, dengan makin digunakannya Internet. Tidak saja bagi para mahasiswa bidang teknologi informasi, bahkan juga bidang-bidang lainnya kini telah mengenal Linux dan GPL nya. Sudah pada tempatnya bila kita juga turut serta aktif mengembangkan trend yang sesuai dengan lingkungan pendidikan ini. Para mahasiswa dan para pengguna Linux lainnya telah membentuk Kelompok Pengguna Linux sebagai ajang saling berdiskusi dan belajar. Bukankah akan sangat baik sekali bila kita turut terjun dalam kegiatan yang menggairahkan ini ? Dukungan para pendidik sangat diharapkan demi kegiatan ini.

Akhir kata saya hanya ingin mengajak rekan-rekan sesama pendidik bidang teknologi informasi dan bidang lainnya pula, untuk melihat jalur alternatif ini dalam menyampaikan materi pelajaran yang kita berikan bagi anak didik kita dan dalam membentuk pola pikir para mahasiswa. Sekali lagi mari kita renungkan sebelum kita tentukan langkah di pada masa mendatang dengan tepat. Selamat bertugas, jalan masih panjang.

I Made Wiryana  mwiryana@rvs.uni-bielefeld.de

Penulis adalah seorang mahasiswa tingkat doktoral di Universitas Bielefeld – Jerman. Staf pengajar Universitas Gunadarma. Pengguna GNU/Linux dan program Open Source

7 Tanggapan to “Surat terbuka kepada para pendidik bidang TI Indonesia”

  1. agorsiloku said

    Huah… betul Kang Deden, para mahasiswa dan pelajar harus dibekali pengetahuan open mind eh.. open source. Banyak perusahaan sudah memulai dan mereka pasti banyak membutuhkan tenaga terampil yang menguasai pembebasan dari monopoli kekuasaan teknologi informasi.
    Bayangin deh, Indonesia harus membeli ke Microsoft sebanyak 377,6 Milyar hanya untuk lisensi Microsoft Office saja.
    Sofyan Jalil betul-betul jail deh, mendiknas juga ikut zalim. Uang segitu banyak hanya untuk begituan, emangnya nggak ada pilihan lain apa?

  2. Hilangkan ketakutan untuk menggunakan open source, bantu yang sedang belajar dengan bahasa yang “menyenangkan”.
    Bagus kang d2n. lanjut terus…

  3. Hapee said

    Seandainya saja semua pengajar bisa berpikiran seperti itu pasti enak. Tapi ada juga pengajara yang kurang suka berpindah ke lain hati yang tetap menggunakan software yang lama dan bayar untuk tugas para siswa maupun muridnya. Jadi mau nggak mau sang murid harus memakai software tersebut yang nota bene software tersebut hanya berjalan di Sistem Operasi yang harus bayar. Tapi kalau ditelusuri lagi seumpama pemerintah sendiri yang mengharuskan warganya untuk bermigrasi mungkin masalah seperti ini bisa diperkecil lagi. 🙂

  4. Deni said

    tolong lebih lengkap ya.. 😦 hehhe…

  5. yossy said

    aduh saya malu. sebagai seorang staff pengajar di sebuah PTN di Yogyakarta tulisan ini sangat menggugah kesadaran kita. Secara pribadi saya memakai UBUNTU untuk mengerjakan kegiatan-kegiatan ilmiah saya, namun untuk mengajarkan tradisi ke mahasiswa masih sangat susah karena sistem dan kurikulum kita tidak memungkinkan. sebagai angkatan dosen muda, jelas kita berprinsip pemanfaatan opensource sekarang merupakan pilihan yang tepat dan tidak lagi sebagai sebuah alternatif.

  6. Andreas said

    Benar kang, se7 100%.
    Hanya masalahnya, pengajar-pengajar itu sendiri (kemungkinan besar) adalah produk dari sistem ‘instan’ itu serta tidak menguasai sepenuhnya apa yang diberikan bagi anak didik mrk.
    Ok kang, PF lah.
    The show must go on …!!!!

  7. siksmat said

    yang mesti diperhatikan, kdg kita nganggap remeh pembelajaran yang mudah2/mengabaikan hal yang sepele, contoh: smk skg bner2 to the point pd spesialis kompter, TKJ lah, RPL lah, tp sebgian anak didiknya g bsa buat tabel pake excell???, apa itu ga memprihatinkan???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: